Selasa, 05 Februari 2008

Mencari Sigupai yang hilang

Jari-jemarinya mengusap peluh di kening, langkahnya tidak berhenti menapaki lorong di Pusat Pasar Blangpidie. Hari itu Rabu (6/2) Muhammad Saifal (37) mencari beras sigupai, Ia berharap menemukan beras tersebut untuk dihidangkan saat menjamu seorang kerabat yang datang dari Jakarta.

Namun sudah lebih satu jam berkeliling, Warga Blangpidie ini tidak menemukan beras yang memiliki ciri -ciri lebih panjang dari beras biasa, putih jernih dan wangi itu belum juga ditemukan, seorang penjual malah menyebutkan beras itu sudah hilang dan punah sejak 10 tahun lalu.

Mendengar itu, Saifal mengurut dada, upayanya untuk menyuguhkan sigupai sia-sia sudah. "Ini sedang di cari, tapi tidak ada yang menjualnya" kata Saifal.

Kisah tentang sigupai disampaikan Nasrun Yunan (50), warga Susoh ini paham sekali dengan sigupai, menurutnya nama lain kabupaten Aceh Barat Daya sama dengan nama beras itu. "Abdya digelar sigupai." Kata Nasrun Yunan.

Penamaan itu di yakininya karena Sigupai hanya bisa tumbuh di daerah Kabupaten Aceh Barat Daya. "inilah ciri daerah ini," ungkap Nasrun. Karena itu dulu banyak pelancong yang melintas di Blangpidie, Ibukota Aceh Barat Daya menyempatkan diri untuk singgah dan menikmati wangi sigupai.

Namun kini di akui Nasrun, Sigupai menghilang dari Abdya, tidak adalagi yang petani yang menanamnya, "dulu pernah kita tanya, petani bilang masa panen lama, mencapai 8 bulan bahkan didaerah tertentu masa panennya bisa 9 bulan." ungkap Nasrun Yunan

Pengembangan Sigupai pernah dilakukan pemerintah dengan membuka lahan sekitar 20 hektar, namun gagal, "kondisi lahan sudah tidak memungkinkan sigupai tumbuh," kata Alman seorang penyuluh pertanian di Kabupaten Aceh Barat Daya.

Sigupai kian sulit di cari, namun sebuah sumber kami menyebutkan sigupai bisa ditemukan di Alue Bili, sebuah wilayah di Kabupaten Nagan Raya. Namun setelah di mencari sigupai sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Karena itu harga sigupai di pasaran bisa mencapai Rp30.000-Rp40.000 perbambu, Mahal memang namun terbalaskan bila menikmati sigupai.

2 komentar:

fiek mengatakan...

mantap tgk jaka...ka meurumpok lom geutanyoe bak blog...beu sering update beh blog droeneuh...

Negeri Si Gupai mengatakan...

Hai juga, Tgk Fiek, Peuhaba?
Soal perjuangan terus lanjutkan semoga nanggroe nyo jroh..
bek tuooo kunjungi www.jakacjr.wordpress.com