Kamis, 06 Desember 2007

SENANDUNG DARI RIMBA LHOK GAYO

Jalan setapak menuju rimba Lhok Gayo masih licin, dikiri-kanan jalan tikus itu penuh dengan semak belukar, bagi warga yang baru melintasi, memperlambat langkah merupakan keputusan yang tepat, bila tidak, resiko tergelincir atau jatuh akan dihadapi.

Kawasan yang dulunya perkebunan itu kini sudah menjadi rimba. Untuk menaklukkannya sangat sulit, jalan setapak akan membuat kita kewalahan karena jalan setapak diantara kebun warga yang lama tidak dilintasi sama dengan kebun warga yang sudah tidak digarap lagi.

Dua kilometer sudah saya melangkah, sayup-sayup ditengah rimba itu terdengar senandung yang asing terdengar. Tidak begitu jelas.!! Penasaran, penulis terus mendekati asal dendangan itu.

Bersama seorang teman yang bertindak sebagai penunjuk jalan, penulis terus menelusuri jalan setapak yang kian sulit di lalui, dan kemudian sebuah hamparan di penuhi pohon sawit yang kurang terawat kami lintasi, dendangan itu kian terasa dekat. kami terus melangkah lebih cepat.

“Mayotono sur yo akiti ka ka you ka kaya keba oyoma oo ka dayu oo yasima..” “oh itu dia, Assalmualaikum” Sapa Paijo teman ku, Sosok tua telanjang dada keluar dari balik semak, sapaan itu membuat pak tua yang hanya mengenakan celana pendek kumal itu mengentikan langkah dan dendangannya. Sesaat ia menjawab “Walaikum salam,” katanya sambil tersenyum.

Pak tua yang memangul potongan kayu dengan diameter sekitar 10 centimeter dengan panjang kurang dari dua meter itu kemudian mendekati kami, Mata senjanya menatap saya. “Mau kemana nak, kok pakai ransel,?” “Mau dengar bapak nyanyi, lagu apa itu pak?” Tanya ku.

“Wah itu lagu Jepang, Ayo ke pondok dulu nanti saya cerita,? Kata Pak tua dengan sikap ramah. Kami pun melangkah diatas jalan setapak yang licin. Sepelemparan batu dari tempat kami bertemu sebuah gubuk sudah terlihat, Dari jauh nampak kupulan asab. Terus mendekat, bau wangi mulai tercium.

“Ayo- ayo duduk sini,” ajak Pak Tua, tapi pria yang di sapa Aman Udin itu meminta penulis tidak terlalu dekat dengan kuali yang berisi air Nira mendidih. “Wah…baunya enak.. masak pak,? Tanya saya membuka pembicaraan. “ini air nira, nanti jadi gula aren,” kata Aman Udin menjelaskan.

Profesi sebagai pembuat gula aren tersebut sudah ditekuninya sejak usia muda, dan sejak tinggal di kawasan Lhok Gayo setelah hijrah dari kampung halamannya di Blangkejeran, pekerjaan Aman Udin sebagai pembuat gula aren juga masih digelutinya.

Air Nira yang di masak dalam kuali berdiameter sekitar 50 centimeter itu berasal dari tiga batang pohon Nira dikebun Aman Udin. Dalam sehari aman bisa membawa pulang lima sampai enam kilogram Gula aren yang sudah siap di cetak.

Sepekan kemudian, Aman Udin meminta anaknya membawa gula aren ke Blangpidie untuk di pasarkan. “ Disana sudah ada yang tampung, sekilo di bayar Rp7.000,” kata Jumadin anak Aman Udin.

Berebut dengan beruang

Untuk mendapatkan air nira dari batangnya aman harus berjuang dengan mempertaruhkan nyawa, mengingat usia yang sudah lanjut, rasanya mustahil bagi Aman Udin bisa memanjat pohon itu, Namun saban hari usia shalat subuh sejak 15 tahun lalu, Aman sudah melangkah meninggalkan rumah menuju tiga pohon nira di tengah rimba Lhok Gayo.

Kehadiran Aman Udin di pagi buta bukan tanpa alasan, terkadang bila telat datang maka pohon sudah di jambangi oleh beruang yang juga mengincar air nira sejuk dan manis. “beruangnya kadang-kadang saja datang, tapi kalo bertemu saya usir saja, dia sudah mengerti,” Kata sambil tersenyum penuh makna.

Dikampung Lhok Gayo, Kecamatan Babahrot pria yang mengaku sudah berumur sekitar 80 lebih tahun itu di sapa Aman Udin, tidak banyak warga yang mengetahui namanya. “orang hanya mengenal saya Pak Aman Udin, padahal nama asli saya Rahmat Lembung,” Katanya.

Lagu Jepang

Bagi orang Gayo, Aman berarti Ayah sementara Udin adalah nama anak tertua Rahmat, Jadilah Suami Aminah ini di sapaan Aman Udin. Sapaan itu sesuai dengan kebiasaan warga Gayo, sebuah komonitas yang kini mendiami dataran tinggi di Kabupaten Aceh Tenggah, Aceh Tenggara dan Kabupaten Bener Meriah.

Lantas dari mana Aman Udin bisa mendendangkan Mars Lagu Jepang itu? Sebuah lagu pemberi semangat bagi prajurit Jepang di masa penjajahan dulu, “ Waktu itu saya masih kecil, tentara Jepang sering mengajari saya,” Kata Aman Udin.

Masa kecil Aman Udin dihabiskan di Blangkejen, Saat itu dia sudah mulai membawa buah-buahan kepasar untuk di jual, “ saat itu sering punggung saya di elus tentara Jepang, sekarang pun masih terasa,” Katanya sambil

Saat itulah Rahmat kecil di ajarkan mars tentara jepang itu, mulailah Aman Udin menyanyi “Mayotono sur yo akiti ka ka you ka kaya keba oyoma oo ka dayu oo yasima sinasa isi asura suto oo you ma kadayu oo Yasima,”

Bila di Indonesia kala pejuang merebut kemerekaan dulu, lagu Mars pemberi semangat seperti sorak sorak bergembira dan Halo halo bandung lazim di dendangkan oleh pejuang, begitu juga dengan Mars yang di nyanyikan oleh Aman Udin atau Pak Rahmad.

Bagi Aman Udin Lagu itu sudah memberikan semangat hidup baginya, meski dari beberapa sumber menyebut Aman Udin adalah korban Konflik yang terlupakan. Kepahitan hidup keluarga miskin yang kehilangan anak perempuannya itu sesaat lenyap bersama lagu itu.

Meski sama-sama tidak mengetahui artinya, serempak kami pun berdendang “ Mayotono sur yo akiti ka ka you ka kaya keba oyoma oo ka dayu oo yasima sinasa isi asura suto oo you ma kadayu oo Yasima,”

Tidak ada komentar: